Rabu, 11 April 2012

Kritisisme Immanuel Kant

 
 
 



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Filsafat merupakan ilmu yang mempelajari hakikat atas kebenaran sesuatu atau studi yang membahas tentang fenomena kehidupan dan pemikiran mausia secara kritis. Ada banyak filusuf-filusuf yang terkenal dengan pemikirannya masing-masing dan filusuf yang terkenal dalam pemikiran kritisisme adalah Immanuel Kant.
Kant mengatakan bahwa filsafat yaitu ilmu pokok dari segala pengetahuan yang meliputi empat persoalan yaitu metafisika, etika, agama, dan antropologi. Menurut Kant kritisisme adalah penggabungan antara aliran filsafat sebelumnya yaitu Rasionalisme yang dipelopori oleh Rene Descartes dan empirisme yang dipelopori oleh David Hume.
Untuk lebih jelasnya kita mempelajari filusuf tentang kritisisme yaitu Immanuel Kant kita lebih baiknya mengetahui lebih dalam tentang Immanuel Kant, yaitu tentang biografinya maupun dan tentang pemikirannya.

B.     Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain:
1.      Bagaimana biografi dan Kritisisme Immanuel Kant?
2.      Bagaimana ciri-ciri kritisisme?
3.      Apa saja karya-karya Immanuel Kant?

C.    Tujuan Pembahasan
Tujuan dari pembahasan dalam penulisan makalah Kritisisme ini yaitu supaya pembaca dapat mengetahui lebih dalam tentang biografi dan Kritisisme Immanuel Kant. Serta lebih mengetahui apa yang dimaksud dengan kritisisme dan mengetahui isi karya-karya Kant.



BAB II
PEMBAHASAN



A.    Biografi dan Pemikiran Immanuel Kant

a.      Biografi Immanuel Kant
Immanuel Kant lahir pada tahun 1724 M di Konisbergen, Prusia Timur (sesudah PD II dimasukkan ke Uni Soviet dan namanya diganti menjadi Kaliningrad), Jerman. Kant berasal dari keluarga miskin. Pada usia delapan tahun kant menjadi murid di gymnasium.  Ia sejak kecil tidak pernah meninggalkan desanya, kecuali saat ia mengajar di desa tetangganya. Untuk mencari nafkah demi kehidupannya, ia sambil bekerja menjadi guru pribadi (privatdozen) pada beberapa keluarga kaya. Kant adalah orang yang yang hidupnya selalu teratur, ia hidupnya disiplin dan tenang, dan ia hampir tidak berpergian. Kant melanjutkan studinya tentang teologi di Universitas Konigsberg . Namun perhatiannya justru tercurah pada filsafat, ilmu pasti dan fisika. Karena tidak mampu membiayai studinya, kant memperoleh uang studinya dari beasiswa. Dari tahun 1755 sampai tahun 1770, ia memberikan banyak kuliah sebagai dosen tamu. Pada 1775 Kant rnemperoleh gelar doktor dengan disertasi benjudul “Penggambaran Singkat dari Sejumlah Pemikiran Mengenai Api” (Meditationum quarunsdum de igne succinta delineatio). Sejak itu ia mengajar di Univensitas Konigsberg. Kant mengajar untuk ilmu pasti, ilmu alam, hukum, teologi, filsafat, dan masih banyak bidang lain. Kuliah beliau sangat menarik karena ia membuat mahasiswa berpikir sendiri. Sejak tahun 1770 ia menjabat sebagai guru besar di Universitas Konigsberg. Pada Maret 1770, ia diangkat menjadi profesor logika dan metafisika dengan disertasi Mengenai Bentuk dan Azas-azas dari Dunia Inderawi dan Budiah (De mundi sensibilis atgue intelligibilis forma et principiis). Kant mengalami tiga periode dalam hidupnya yaitu;
1.      Kant melaksanakan ilmu alam dan filsafat alam menurut gaya Newton dan Wolff. Periode rasionalistis ini berlaku sampai tahun 1755 (copleston VI, 185).
2.      Setelah karya Hume diterjemahkan dalam bahasa Jerman (1756), ia sangat dipengaruhi Hume. Ia berpotensi skeptis tentang pengetahuan filosofis.
3.      Sekitar tahun 1770 mulailah periode kritis. Ia mendapat penerangan besar tentang nilai hukum-hukum ilmiah, dengan konsekuensinya. Lalu ia mulai merencanakan membuat buku mengenai hal itu. Namun baru pada tahun 1781 diterbitkan buku Kritik der reinen Vernunft. Dan tahun 1787 diterbitkan buku edisi kedua.[1] Kemudian dalam waktu singkat diterbitkanlah buku yang berjudul “kritik-kritik” yang memuat tentang kehendak, penilaian estetis, dan tentang Agama.
Kant meninggal pada tanggal 12 Februari tahun1804 di Konigsberg pada usianya yang kedelapanpuluh tahun.

b.      Kritisisme Imanuel Kant
Filsafat Kant merupakan titik tolak periode baru bagi filsafat Barat. Ia mengatasi dan menyimpulkan aliran Rasionalisme dan Empirisme, yang dibantah oleh Copleston VI. Dari satu pihak ia mempertahankan obyektifitas, universalitas, dan keniscayaan. Dalam filsafat Kant, tekanan yang utama terletak pada kegiatan atau pengertian dan penilaian manusia. Bukan seperti empirisme yang menekankan pada aspek psikologi, melainkan sebagai analisa kritis, pada pemahaman Kant yang baru, dan sering disebut “revolusi Kopernikus yang kedua”.[2]
Kant memandang rasionalisme dan empirisme senantiasa berat sebelah dalam menilai akal dan pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Kant tidak menentang adanya akal murni, ia hanya menunjukkan bahwa akal murni itu terbatas. Akal murni menghasilkan pengetahuan tanpa dasar indrawi atau independen dari alat pancaindra.
Kant dalam argumennya, bahwa akal dipandu oleh tiga ide transcendental, yaitu ide psikologis yang disebut jiwa, ide dunia, dan ide tentang Tuhan. Ketiganya tersebut memiliki fungsi masing-masing, yaitu “ide jiwa” menyatakan dan mendasari segala gejala batiniah yang merupakan cita-cita yang menjamin kesatuan terakhir dalam bidang psikis, “ide dunia” menyatakan segala gejala jasmaniah, “ide Tuhan” mendasari segala gejala, segala yang ada, baik batiniah maupun yang lahiriah (Ahmad Tafsir, 2005:150-151, lihat Mircea Eliade,t.:247)
Kant mengarang macam-macam kritik mengenai akalbudi, kehendak, rasa, dan agama. Dalam karyanya yang sering disebut metafisika. Menurutnya Metafisika merupakan uraian sistematis mengenai keseluruhan pengertian filosofis yang dapat dicapai. Ia berpendapat bahwa pada sekurang-kurangnya pada prinsipnya mungkin untuk memperkembangkan suatu metafisika sistematis yang lengkap. Namun Kant mulai meragukan kemungkinan dan kompetensi metafisik, sebab menurut dia metafisik tidak pernah menemukan metode ilmiah yang pasti untuk memecahkan masalahnya, maka perlu diselidiki dahulu kemampuan dan batas-batas akal-budi.
Immannuel Kant membedakan akal (vertstand) dari rasio dan budi (vernuft). Tugas akal merupakan yang mengatur data-data indrawi, yaitu dengan mengemukakan “putusan-putusan”. Sebgaimana kita melihat sesuatu, maka sesuatu itu ditrasmisikan ke dalam akal, selanjutnya akal mengesaninya. Hasil indra diolah sedemikian rupa oleh akal, selanjutnya bekerja dengan daya fantasi umtuk menyusun kesan-kesan itu sehingga menjadi suatu gambar yang dikuasai oleh bentuk ruang dan waktu.[3]
Pemikiran-pemikiran Kant yang terpenting diantaranya adalah tentang “akal murni”. Menurut Kant dunia luar itu diketahui hanya dengan sensasi, dan jiwa, bukanlah sekedar tabula rasa. Tetapi jiwa merupakan alat yang positif, memilih dan merekontruksi hasil sensasi yang masuk itu dikerjakan oleh jiwa dengan menggunakan kategori, yaitu dengan mengklasifikasikan dan memersepsikannya ke dalam idea. Melalui alat indara sensasi masuk ke otak, lalu objek itu diperhatikan kemudian disadari. Sensasi-sensasi itu masuk ke otak melalui saluran-saluran tertentu yaitu hukum-hukum, dan hukum-hukum tersebut tidak semua stimulus yang menerpa alat indra dapat masuk ke otak. Penangkapan tersebut telah diatur oleh persepsi sesuai dengan tujuan. Tujuan inilah yang dinamakan hukum-hukum(Ahmad Syadali dan Mudzakir, 2004: 121).
Demikian gagasan Immanuel Kant yang menjadi penggagas Kritisisme. Filsafat memulai perjalanannya dengan menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Maka Kritisisme berbeda dengan corak filsafat modern sebelum sebelumnya yang mempercayai kemampuan rasio secara mutlak.
Dengan Kritisisme yang diciptakan oleh Immanuel Kant, hubungan antara rasio dan pengalaman menjadi harmonis, sehingga pengetahuan yang benar bukan hannya pada rasio, tetapi juga pada hasil indrawi. Kant memastikan adanya pengetahuan yang benar-benar “pasti”, artinya menolak aliran skeptisisme, yaitu aliran yang menyatakan tidak ada pengetahuan yang pasti.
Zaman pencerahan atau yang dikenal di Inggris dengan enlightenment. Terjadi pada abad ke 18 di Jerman. Immanuel Kant mendefinisikan zaman itu dengan mengatakan “dengan aufklarung, manusia akan keluar dari keadaan tidak akil balig (dalam bahasa Jerman: unmundigkeint), yang dengan ia sendiri bersalah”. Sebabnya menusia bersalah karena manusia tidak menggunakan kemungkinan yang ada padanya yaitu rasio. Dengan demikian zaman pencerahan merupakan tahap baru dalam proses emansipasi manusia barat yang sudah dimulai sejak Renaissance dan reformasi. Di Jerman, seorang filosof besar yang melebihi zaman aufklarung telah lahir yaitu Immanuel Kant.

B.     Ciri-ciri Kritisisme
Isi utama dalam kritisisme yaitu gagasan Immanuel Kant tentang teori pengetahuan, etika, dan estetika. Gagasan tersebut muncul karena ada pertanyaan-pertanyaan yang mendasar yang timbul pada pemikiran Immanuel Kant. Pertanyaan-pertanyaan tersebut yaitu:
1.      Apa yang dapat saya ketahui?
2.      Apa yang harus saya lakukan?
3.      Apa yang boleh saya harapkan?
Ciri-ciri Kritisisme Immanuel Kant dapat disimpulkan menjadi tiga hal yaitu:
1.      Menganggap objek pengenalan berpusat pada subjek dan bukan pada objek.
2.      Menegaskan keterbatasan kemampuan rasio manusia untuk menetahui realitas atau hakikat sesuatu, rasio hanya mampu menjangkau gejalanya atau fenomenanya saja.
3.      Menjelaskan bahwa pengenalan manusia atas sesuatu itu diperoleh atas perpaduan antara peranan unsure “a priori” (sebelum di buktikan tapi kita sudah percaya) yang berasal dari rasio serta berupa ruang dan waktu dan peranan unsur “aposteoriori” (setelah di buktikan baru percaya) yang berasal dari pengalaman yang berupa materi.

C.    Karya-karya Immanuel Kant
Immanuel Kant bermaksud mengadakan penelitian yang kritis terhadap rasio murni, dan Kant mewujudkan pemikirannya tersebut ke dalam beberapa buku yang sangat penting yaitu tentang kritik. Buku-bukunya antara lain berjudul:

a.      Kritik atas Rasio murni (kritik der reimem Vernunft) tahun 1781
Dalam kritik ini Kant menjelaskan bahwa ciri pengetahuan adalah bersifat umum, mutlak, dan memberi pengertian baru. Untuk itu Kant terlebih dulu membedakan adanya tiga macam putusan. Pertama, putusan analitis “a priori” di mana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (misalnya, setiap benda menempati ruang). Kedua, putusan sintesis “aposteriori”, misalnya pernyataan"meja itu bagus", di sini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi. Ketiga, putusan sintesis “a priori” di sini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang kendati bersifat sintetis, namun bersifat a priori juga. Misalnya, putusan yang berbunyi "segala kejadian mempunyai sebabnya". Putusan ini berlaku umum dan mutlak (jadi a priori), namun putusan ini juga bersifat sintetis dan aposteriori, Sebab di dalam pengertian "kejadian" belum dengan sendirinya tersirat pengertian "sebab". Maka di sini baik akal ataupun pengalaman indrawi dibutuhkan serentak. Ilmu pasti, mekanika, dan ilmu pengetahuan alam disusun atas putusan sintetis yang bersifat a priori ini. Menurut Kant, putusan jenis ketiga inilah syarat dasar bagi apa yang disebut pengetahuan (ilmiah) dipenuhi, yakni bersifat umum dan mutlak serta memberi pengetahuan baru.[4]

b.      Pada Taraf Indra
Dalam buku ini unsur a priori memainkan peranan bentuk dan unsure aposteriori memainkan peranan materi. Menurut Kant unsure a priori itu sudah terdapat pada tarap indra.
Ia berpendapat bahwa dalam pengatahuan indrawi selalu ada dua bentuk a priori, yaitu ruang dan waktu. Jadi ruang tidak merupakan ruang kosong, dimana benda-benda diletakkan; ruang tidak merupakan “ruang dalam dirinya”(ruang an sinch). Waktu bukan merupakan suatu arus tetap, dimana pengindraan-pengindraan bisa ditempatkan.

c.       Pada Taraf Akal Budi
Kant membedakan akal budi (Verstand) dengan rasio (Vernunff). Tugas akal budi ialah menciptakan orde antara data-data indrawi. Dengan kata lain akal budi mengucapkan putusab-putusan. Pengenalan akal budi juga merupakan sintesis antara bentuk dengan materi. Materi adalah data-data indrawi dan bentuk adalah a priori, yang terdapat pada akal budi. Bentuk a priori ini dinamakan Kant dengan istilah “kategori”. (Juana S. Pradja, 2000: 79). Menurut Kant ada duabelas kategori, tetapi yang terpenting dapat disebut disini hanya dua kategori saja, yaitu substansi dan kausalitas (sebab akiabt). Akal budi mempunyai struktur sedemikian rupa, sehingga terpaksa mesti memikirkan data-data indrawi sebagai substansi atau menurut ikatan sebab akibat atau menurut kategori lainnya.

d.      Pada Taraf Rasio
Menurut Juhaya S. Pradja, tugas rasio ialah menarik kesimpulan dari keputusan-keputusan. Dengan kata lain, rasio mengadakan argumenasi-argumentasi. Seperti akal budi menggabungkan data-data indrawi dengan mengadakan putusan-putusan, demikian pula rasio menggabungkan putusan-putusan.
Kant memperlihatkan bahwa rasio membentuk argumentasi itu dengan dipimpin tiga ide, yaitu jiwa, dunia dan Allah. Ide menurut Immanuel Kant ialah cita-cita yang menjamin kesatuan terakhir dalam bidang gejala psikis (jiwa), kejadian jasmani (dunia), dan segala galanya yang ada (Allah). Ketiga ide tersebut mengatur argumentasi kita tentang pengalaman., tetapi ketiga ide itu sendiri tidak termasuk pengalaman kita. Karena kategori akal budi hanya berlaku pada pengalaman, dan kategori itu tidak berlaku pada ide-ide, hal tersebutlah yang diusahakan dalam metafisika.Bagian yang terpenting dari buku Kant yaitu Critique on Peru Reason adalah filsafat Kant tentang transcendental aesthethic yang merupakan transcendental philosophy. Transcendental aesthethic membicarakan ruang dan waktu.

e.       Kritik Atas Rasio Praktis
Rasio murni yang dimaksudkan Immanuel Kant adalah rasio yang dapat menjalankan roda pengetahuan. Akan tetapi diasmping rasio murni terdapat rasio praktis, yaitu rasio yang mengatakan “apa yang harus kita lakukan” atau dengan kata lain “rasio yang memberikan perintah kepada kehendak kita”.
Kant memperlihatkan bahwa rasio praktis memberikan perintah yang mutlak yang disebut sebagai imperatif kategori. Kant beranggapan bahwa ada tiga hal yang harus disadari sebaik-baiknya bahwa ketiga hal tersebut dibuktikan, hanya dituntut, yang disebut Kant ketiga postulat dari rasio praktis. Ketiga itu adalah kebebasa kehendak, inmoralitas jiwa, dan adanya Allah.(Juhaya S. Pradja, 2000:82). Menerima ketiga hal tersebut dinamakan Kant sebagai Gloube alias kepercayaan, dengan demikian Kant berusaha untuk mempengaruhi keyakinannya atas Yesus Kritus dengan penemuan filsafatnya.

f.       Kritik atas Daya Pertimbangan
Kritik atas Daya Pertimbangan terdiri dari sebuah pendahuluan. Kant mengemukakan delapan pokok persoalan di antaranya adalah bagaimana cara ia berusaha merukunkan dua karya kritik sebelumnya di dalam satu kesatuan yang menyeluruh. Bagian pertama dari karya itu berjudul “Kritik atas daya penilaian estetis” dan terbagi menjadi dua bagian yang terkait dengan penilaian estetis yaitu analisa daya penilaian estetis dan dialektika daya penilaian estetis. Analisa putusan estetis dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu analisa tentang cantik (beautiful) dan analisa tentang agung (sublime)[5]. Kritik ketiga dari Immanuel Kant atas rasio dan empirisme yaitu dalam karyanya critique of jidgement. Sebagai konsekuensi dari “kritik atas rasio umum” dan “kritik atas rasio praktik” ialah munculnya dua lapangan tersendiri yaitu lapangan keperluan mutlak dibidang alam dan lapangan kebebasan dibidang tingkahlaku manusia.
Kritisisme Immanuel Kant sebenarnya telah memaduakan dua pendekatan dalam pencarian keberadaan sesuatu yang juga tentang kebenaran substanstial dari sesuatu itu. Kant seolah-olah mempertegas bahwa rasio tidak mutlak dapat menemukan kebenaran, karena rasio tidak membuktikan, demikian pula pengalaman, tidak dapat selalu dijadikan tolak ukur, karena tidak semua pengalaman benar-benar nyata dan rasional, sebagaimana mimpi nyata, tetapi “tidak real”, yang demikian sukar untuk dinyatakan sebagai kebenaran.[6]
Dengan demikian, rasionalisme dan empirisme seharusnya bergabung agar melahirkan suatu paradigma baru bahwa kebenaran empiris harus rasional sebagaimana kebenaran rasional harus empiris. Jika demikian maka kemungkinana akan lahir aliran baru yaitu Rasionalisme empiris.
 
BAB III
PENUTUP

Filsafat Immanuel Kant yaitu kritisisme merupakan aliran filsafat yang menggabungkan antara aliran filsafat sebelumnya yaitu Rasionalisme yang dipelopori oleh Rene Descartes dan Empirisme yang dipelopori oleh David Hume. Kant mempunyai beberapa karya yang sangat penting yaitu kritik atas rasio murni, kritik atas rasio praktis, kritik atas pertimbangan, pada taraf indra, pada taraf akal budi, pada taraf rasio. Beberapa karyanya inilah yang sangat mempengaruhi pemikiran filosof sesudahnya, yang mau tak mau menggunakan pemikiran kant. Karena pemikiran kritisisme mengandung pedoman-pedoman berfikir yang rasional dan empiris.

DAFTAR PUSTAKA

Anton, Bakker,Dr. 1986. Metode-Metode Filsafat. Jakarta: Ghalia Indonesia
Abdul Hakim Atang,Drs dan Ahmad Saebani Beni,Drs. 1984. Filsafat Umum dari Metologi Sampai Teofilosofi. Bandung: Pustaka Setia
http://ozziexdanuarta.blogspot.com/2009/10/kritisisme-filsafat-ilmu.html


[1] Anton, Bakker,Dr. 1986. Metode-Metode Filsafat. Jakarta: Ghalia Indonesia, hal.87
[2] Anton, Bakker,Dr. 1986. Metode-Metode Filsafat. Jakarta: Ghalia Indonesia, hal.88
[3] Abdul Hakim Atang,Drs dan Ahmad Saebani Beni,Drs. 1984. Filsafat Umum dari Metologi Sampai Teofilosofi. Bandung: Pustaka Setia, hal.280
[4] http://ozziexdanuarta.blogspot.com/2009/10/kritisisme-filsafat-ilmu.html

[5] http://ozziexdanuarta.blogspot.com/2009/10/kritisisme-filsafat-ilmu.html

[6] Abdul Hakim Atang,Drs dan Ahmad Saebani Beni,Drs. 1984. Filsafat Umum dari Metologi Sampai Teofilosofi. Bandung: Pustaka Setia, hal.288

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar